Ketika Nasi sudah menjadi Bubur

21 Nov 2016

Suatu lembaga terhormat akan sangat kecil kemungkinannya untuk bisa secara terang-terangan mengakui kekurangan yang telah dilakukannya. Mengakui suatu kekurangan berarti menurunkan kredibilitas kelembagaan tersebut. Terlebih sikap yang telah terlanjur terlontar menjadi dasar dalam suatu aksi yang massive.

Alih-alih mengakui kekurangan, lebih baik mengeluarkan jurus Tai Chi. Wibawa tetap terjaga, tidak akan jatuh, dan berhasil memindahkan masalah ke tempat lain. Kurang lebih, ini adalah strategi yang dilakukan ketika nasi sudah menjadi bubur. Tanpa perlu mengatakan “Maaf, saya telah lalai membiarkan nasi terlalu masak sehingga encer”, justru dengan indahnya bisa mengatakan “Saya telah berhasil membuat variasi masakan beras yang bernama bubur, nikmat ketika dicampur dengan potongan ayam, seledri, kacang, krupuk, kecap dan kuah kaldu ayam”.

Strategi ini bukan tanpa kekurangan, karena akhirnya membutuhkan upaya lebih untuk menghasilkan masakan yang lebih nikmat. Tentunya saya menghargai inovasi ini, karena telah menjadi sebuah pelajaran yang berharga atas suatu kejadian. Bahwasanya faktor kelalaian ini ternyata bisa menjadi pengaruh yang lebih positif.

Yang awal mulanya dianggap sebagai kelalaian, menjadi suatu keberkahan. Solusi yang adil untuk semua.

 


TAGS Refleksi kehidupan bangsa negara opini terkini


-

Author

Follow Me