Hukum & Vonis Publik

16 Feb 2015

Semua ahli (jago komentar) sepakat bahwa kita harus menghormati hukum. Namun ketika hukum berbicara tidak sesuai dengan kehendak kita, maka akan ada langkah hukum yang lain, hingga hukum tersebut bisa menghasilkan keputusan Final.

Saat ini Hukum sudah bercampur dengan Vonis Publik, semua opini dan analisi membanjiri masyarakat tanpa ada filter dan tanpa ada Hakim yang bisa memberikan keterangan opini mana yang benar dan salah. Ya karena Hakim hanya memberikan putusan di pengadilan.

Kebenaran sesungguhnya sangat rawan tertutup oleh Vonis Publik. Vonis Publik yang diciptakan oleh pada Ahli Komentar yang katanya juga berbekal kepada Undang-Undang dan juga Pengalaman. Yang benar bisa terlihat Salah, dan yang Salah bisa menjadi Benar karena Vonis Publik.

  • Tapi jika Vonis Publik merupakan suara Rakyat Kebanyakan dan kebetulan bertentangan dengan produk Hukum, apakah Rakyat Salah?
  • Pertanyaan selanjutnya adalah Negara ini sebenarnya dibangun atas dasar Hukum ataukah Suara Rakyat?
  • Bisakah produk Hukum itu Salah?
  • Bagaimana memvalidasi kebenaran Suara Rakyat? jika banyak yang mengaku Rakyat berteriak / bersuara atas nama Rakyat?

Ini tanda-tanda kekacauan system yang tidak jelas, terutama jika produk Hukum dinilai bertentangan dengan Suara Rakyat. Bagaimana jika rakyat marah karena produk hukum yang salah? Atau mungkin kebalikannya Rakyat marah karena suara mereka dimanipulasi oleh oknum yang mengaku wakil rakyat.

Hukum bukanlah segalanya, terutama jika sudah berhadapan dengan Suara Rakyat. Artinya produk Hukum yang dibangun tersebut tidak mencerminkan prinsip keadilan yang diharapkan oleh Rakyat. Apalagi jika segilintir orang ternyata mampu menggunakan “Hukum” sebagai alat untuk mencapai tujuannya.

Permainan segelintir orang saat ini telah mampu menggiring problem individu menjadi problem institusi. Sehingga lahirlah istilah KPK vs. POLRI, dimana seharusnya adalah Pimpinan KPK vs. calon KAPOLRI.

Dan yang dibela para pendukung-nya ini juga seolah-olah mendukung institusi, padahal yang dibeli sebenarnya adalah invidu yang “belum tentu benar”


TAGS


-

Author

Follow Me