Ribut soal Mobnas dan Proton

9 Feb 2015

cd62bfa4fa8ee688c105dd2fb76e2e4f_mobnas-its

Mengomentari soal artikel

Rilis Lengkap Proton soal ‘Mobnas’

Harusnya bisa menjawab beragam keraguan dan pertanyaan mengenai kisruh isu Mobil Nasional. Pertanyaan yang muncul antara lain:

  1. Apakah Indonesia ingin memunculkan kembali Mobil Nasional?
  2. Kenapa kerjasama dengan Proton dari Malaysia, yang notabene “Saingannya” Indonesia?
  3. Bagaimana dengan industri otomotif saat ini di Indonesia?

Mari kita coba simak satu per satu…

Haruskah Indonesia punya Mobil Nasional?

Jika melihat dari sudut pandang gengsi, pasti semua orang Indonesia ingin memiliki Mobil Nasional. Apalagi Malaysia yang negera kecil saja sudah punya mobil nasional yang bisa dibilang “cukup sukses” di kandang sendiri dan juga Asia Tenggara.

Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, Jika Indonesia sudah memiliki mobil Nasional akankah masyarakat Indonesia membeli-nya? Pasti akan muncul banyak syarat dari masyarakat Indonesia yang sangat kritis antara lain:

  1. Harganya harus murah
  2. Kualitasnya menyamai produk merek Eropa
  3. Desain-nya harus bagus
  4. Harus memiliki pusat servis yang tersebar di seluruh nusantara
  5. Memiliki nilai jual kembali yang tinggi

Nah jika sudah bicara maunya bagaimana soal Mobil Nasional, ya begitulah Idealisme tinggi dengan beragam syarat. Sehingga dari sisi Negara dan juga Pengusaha Otomotif akan selalu menganggap proyek mobil Nasional tersebut Mustahil untuk diwujudkan.

Saya pun tidak yakin masyarakat Indonesia akan mengganti mobil Avanza, Innova-nya dengan mobil Nasional (kecuali 5 syarat di atas terpenuhi).

PAdahal, yang namanya membangun kondisi 5 hal di atas membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan juga butuh loyalitas yang tinggi. Dukungan dari masyarakat dan juga para pelaku usaha mulai dari Pabrikan, Dealer, dan Service Center. Artinya tidak ada jalan instan dimana ketiga Proyek Mobil Nasional di-gong-kan maka dalam waktu 2-3 tahun sudah sukses.

Kenapa Bekerjasama dengan PROTON Malaysia?

Sudah banyak masyarakat pintar Indonesia yang belajar mengenai Toyota, GM, Ford, dkk… Nyatanya, ujung-ujungnya adalah mengembangkan perusahaan Jepang dan Eropa di tanah air. Income yang lebih baik pastinya…

Justru memang Indonesia perlu belajar dari Malaysia, karena kesamaan karakter bangsa. Berikut rinciannya:

  1. Indonesia perlu belajar, kenapa masyarakat Malaysia begitu mencintai PROTON
  2. Bagaimana PROTON bisa berkembang dari Nol hingga menjadi seperti sekarang
  3. Apa peranan Pemerintah, Pengusaha Otomotif dalam mengembangan merek PROTON karena Malaysia juga banyak digempur produk Jepang dan Eropa

Jika kita ingin belajar ke Jepang dan Eropa, sudah terlambat 50 tahun lebih. Pelaku-pelaku yang mengembangkan merek tersebut sudah hilang. Sejarah merek Jepang dan Eropa semua sudah dijabarkan dalam bentuk Buku. Sementara para Pelaku merek Jepang dan Eropa saat ini semuanya sudah berangkat ketika merek mereka sudah mendunia.

Sementara dengan PROTON, kita masih bisa belajar langsung dari orang-orang yang mengembangkan merek tersebut dari NOL.

Apakah bangsa kita tidak bisa belajar dan mengembangkan sendiri? maaf, TIDAK BISA. karena kita terlalu SOMBONG dan merasa lebih tahu. dan kita selalu merasa ingin dihargai lebih tinggi. Sehingga lebih menguntungkan “ikut orang” ketimbang membangun merek Nasional.

Kita memiliki Industri Otomotif yang BESAR?

Indonesia merupakan negara Otomotif yang BESAR dari sudut pandang pasar Konsumen. Pabrikan otomotif di Indonesia di desain untuk Perakitan, penjualan. Bukan untuk membangun dari NOL.

Kita sangat jago dalam hal teknik manufaktur, engineering, produktivitas, efisiensi, di perusahaan Jepang yang sudah besar.

Kita kekurangan orang yang bisa merancang bisnis dari Nol, itu sebabnya kita perlu belajar ke negara yang baru-baru ini sudah menjalankan hal tersebut.

Sehingga jika kita kesampingkan ego, maka belajar dari PROTON Malaysia, mungkin memang perlu…

Kita tidak akan pernah bisa berkembang jika kita tidak terbuka terhadap hal yang baik dari luar.


TAGS mobnas


-

Author

Follow Me